Jika kita mendapat kurnia dari Allah, hendaklah kita ucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah).
Ada empat perkara, barangsiapa
memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam
naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya
“Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan
“Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan
“Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi
wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)
Jika kita
bersyukur/berterimakasih atas nikmat Allah, niscaya Allah akan menambah
nikmatNya kepada kita. Jika tidak, maka kita akan disiksa olehNya:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Ibrahim 7]
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha
Mengetahui. “ [An Nisaa’ 147]
Mengapa kita harus bersyukur kepada Allah?
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78)
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi
kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu
bersyukur” [Al Mu’minuun 78]
Coba kita renungi diri kita. Siapakah
yang telah menciptakan kedua mata kita? Kedua telinga kita? Mulut kita?
Kaki dan tangan kita? Allah bukan? Mengapakah kita tidak mau bersyukur?
Sekedar untuk membeli frame dan lensa
saja bisa habis jutaan rupiah. Mata kita tentu nilainya jauh di atas
itu. Mengapa kita tidak bersyukur?
Saat orang sakit jantung, dia bisa
menghabiskan ratusan juta rupiah untuk mengobatinya. Bukankah kita
seharusnya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan jantung kepada
kita secara Cuma-Cuma?
Jika kita amati orang tua kita, anak-anak kita, istri kita, semua itu Allah yang menciptakan.
Begitu pula dengan bumi dan langit beserta seluruh isinya.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat
Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An Nahl 18]
Oleh karena itulah Luqman menasehati anaknya untuk bersyukur kepada Allah:
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan
hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa
yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk
dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya
Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Luqman 12]
Untuk bersyukur kepada Allah, hendaknya kita mengucapkan Alhamdulillah sebagaimana hadits yang di atas.
Ucapkan juga dzikir kepada Allah:
“Barangsiapa pada pagi hari berdzikir:
Allahumma ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka
wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru.”
(Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu)
Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur.” (HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin)
(Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu)
Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur.” (HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin)
“Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia
berkata: Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam, lalu Nabi bersabda: ‘Atas hujan ini, ada manusia yang
bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata:
‘Inilah rahmat Allah’. Orang yang kufur nikmat berkata: ‘Oh pantas saja
tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim no.243)
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh Dhuha: 11)
Hendaknya kita bekerja demi Allah:
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa
yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan
piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap
(berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur
(kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima
kasih. “ [Saba’ 13]
Nabi kerap shalat begitu lama untuk bersyukur kepada Allah. Beliau sering shalat malam/tahajjud dan juga shalat dhuha:
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya
mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau
sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah
lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah,
bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari
no.1130, Muslim no.2820)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan,
karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian
kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia
bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia
bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692)
Hendaknya kita bertakwa kepada Allah. Artinya menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi larangan Allah:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Al Imran: 123)
Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah
adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara
sampainya nikmat Allah kepada kita. Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
“Orang yang tidak berterima kasih kepada
manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081,
ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)
Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih
adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan
kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan: ‘Jazaakallahu khayr’
(semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah
mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia
berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”)
Senantiasa Qana’ah atau merasa cukup atas nikmat yang telah Allah berikan:
“Jadilah orang yang wara’, maka engkau
akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah,
maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur” (HR. Ibnu Majah
no. 4357, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Lakukan Sujud Syukur:
“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits
Radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggemberikan beliau bersimpuh
untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah”(HR. Abu Daud
no.2776, dihasankan oleh Al Albani dalam Irwa Al Ghalil)
Berdo’alah:
Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa huni ‘ibadatika
“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”
“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”
Referensi:
Bersyukur Kepada Allah
At Tauhid edisi VI/45
Disarikan oleh Yulian Purnama dari
artikel berjudul ‘Asy Syukru’ karya Dr. Mihran Mahir Utsman
hafizhahullah dengan beberapa tambahan. Artikel asli: http://www.saaid.net/Doat/mehran/51.htm]